news
LIGA 1
Soal Gol Bunuh Diri Persib, Ini Kata Supardi dan Achmad Jufriyanto
05 December 2019 14:17 WIB
berita
Bek Persib Achmad Jufriyanto/Foto:TopSkor/Ady Sesotya
BANDUNG – Sempat menuai hasil positif beberapa pekan, grafik Persib Bandung kembali menurun dalam dua laga terakhir. Kekalahan 2-3 dari Bali United dan 0-2 dari Persela Lamongan membuat target mencapai lima besar klasemen Liga 1 2019 semakin berat.

Bukan hanya itu, dua laga terakhir Maung Bandung juga diwarnai gol bunuh diri. Menariknya, kedua gol sama-sama tercipta menit ke-56, melalui sundulan, dan dicetak oleh bek senior Maung Bandung.  Yakni Supardi Nasir saat di kandang Bali United dan Achmad Jufriyanto tatkala menjamu Persela Lamongan.




Baca Juga :
- Mengingat Leontin Chitescu, Perekrutan Persib yang Gagal
- Persib Jadwalkan Konsolidasi setelah Manajemen Bertemu PSSI


Terkait rapor buruk ini pelatih Persib Robert Rene Alberts siap pasang badan. Ia tidak mau menyalahkan pemain yang sudah berjuang keras di lapangan. "Saya akan  berdiri paling depan untuk tim ini dan mencari cara untuk bangkit secepat mungkin," Robert menegaskan, Rabu (4/12).

Pelatih asal Belanda itu pun berjanji secepatnya membangkitkan mental bermain anak asuhnya usai terciptanya dua gol bunuh diri secara beruntun. "Saat ini kami hanya akan introspeksi dan melihat kepada diri kami sendiri agar kembali bermain lebih baik pada laga berikutnya," katanya.


Baca Juga :
- Persib Bikin Iri Presiden Borneo FC Nabil Husein, Ini Sebabnya
- Persib Kembali Instruksikan Pemain Jalani Latihan Mandiri


Siapa pun tidak mau mencetak gol bunuh diri. Tak terkecuali Supardi. Bek 36 tahun ini menyadari betul kata maaf tidaklah cukup untuk mengobati bobotoh yang kecewa. "Tapi kita harus yakin  tim ini akan bangkit. Saat ini kami butuh dukungan," ucapnya. Berbagai kritikan apa pun, terutama dari bobotoh, menurut Supardi, harus diterima.

“Kami dalam keadaan sedikit tertekan, tetapi tetap butuh dukungan. Doakan kami. Kalaupun ada yang mencaci tidak masalah selama itu masih di batas kewajaran. Kritik boleh, tapi jangan sampai di luar batas yang membuat pemain tidak nyaman, " ujarnya.

Sedangkan Jupe, sapaan Jufriyanto, dalam akun pribadinya, curhat soal tekanan yang diterimanya usai mencetak gol bunuh diri itu. “Saya terlalu kuat untuk kalian jatuhkan, karena ada Allah bersama saya. Mohon maaf atas kekalahan dan kesalahan kemarin, permainan terburuk yang telah saya dan Persib jalani,” ujar Jupe.

“Semua opini dan asumsi kalian yang sudah menjadi fitnah, kelak akan dipertanggung jawabkan. Alhamdulillah saya masih berkecukupan karena diberikan iman islam, serta keluarga yang luar biasa,” ia menambahkan dalam unggahannya, Rabu (4/12).

Dari kaca mata mantan pemain hal-hal negatif seperti kekalahan,  penurunan mental, dan performa bahkan gol bunuh diri adalah hal yang sering terjadi dalam sebuah tim. Apalagi menjelang kompetisi berakhir.

"Gol bunuh diri Supardi misalnya, maksudnya baik tapi bolanya berputar sehingga saat heading bola mengarah ke gawang sendiri. Begitu juga gol bunuh diri Jufriyanto. Kejadian seperti itu banyak dan sering terjadi, termasuk menimpa pemain kelas  dunia,” kata Nana Supriatna, bek Persib era 1980-an.

Menurutnya, turunnya performa Persib lebih disebabkan karena Robert belum memiliki skema,  komposisi, dan formasi baku saat ini. Faktanya, kata Nana, Robert kerap bongkar pasang pemain.. “Lini tengah misalnya, sering terjadi bongkar pasang, kecuali Omid Nazari. Padahal  kinerja Nazari tidak terlalu menonjol, " Nana memaparkan lagi.

Secara keseleruhan Nana menyoroti  saat melawan Bali United sebetulnya Persib sudah tampil bagus. Namun, Ezechiel N'Douassel sering terpancing. "Permainan N’Doaussel jadi tidak stabil kalau sudah emosi. Dan,  saat melawan Persela permainan tim jauh sekali di bawah standar permainan Persib, " kata Nana.*Arief Nugraha K

news
Penulis
Kunta Bayu Waskita
Nyaman di Harian TopSkor, Mantap di TopSkor.id