news
PIALA DUNIA
Jangan Memalukan
19 November 2019 13:10 WIB
berita
Irfan Bachdim akan menjadi salah satu motor serangan Indonesia saat menghadapi Malaysia pada laga Grup G kualifikasi Piala Dunia 2022 di kandangnya, Stadion Bukit Jalil, Selasa (19/11).
KUALA LUMPUR – Malaysia lebih unggul daripada Indonesia. Tidak sepenuhnya benar namun juga tak salah. Bila mengacu pada data Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Indonesia jelas kalah. IPM Malaysia berada di angka 0,773, sedang Indonesia yang berada di angka 0,708. Apakah IPM berbanding lurus dengan kualitas sepak bola?

Sepak bola Indonesia memang sedang tidak ideal. Acuannya, kompetisi kasta teratas Indonesia jadi satu-satunya yang belum usai dibanding penghuni Grup G Pra Piala Dunia 2022 lainnya. Situasi ini membuat kebugaran pemain kedodoran. Itu tercermin dalam empat pertandingan sebelumnya.




Baca Juga :
- Tanggap Virus Corona, Peluncuran Jersey Timnas Indonesia Ditunda
- Paul Munster, Pelatih Agresif Warisan Simon McMenemy untuk Bhayangkara FC


Saat menjamu Malaysia, 5 September lalu, Garuda Merah-Putih dipermalukan lewat skor 2-3. Adapun gol penentu kemenangan Harimau Malaya tercipta saat injury time, yakni menit ke-96. Lima hari setelahnya, tim yang dilatih Simon McMenemy ini luluh lantak lewat skor 0-3, di mana tiga gol Thailand tercipta pada babak kedua.

Selanjutnya, pada 10 Oktober, saat bertamu ke markas Uni Emirat Arab (UEA), Indonesia dikecundangi lewat skor 0-5. Sejatinya, Irfan Bachdim dan kawan-kawan bisa mengimbangi tuan rumah pada 45 menit babak pertama. Namun, mereka kehilangan segalanya pada 45 menit babak kedua.


Baca Juga :
- Berulah Lawan Timnas Indonesia, AFC Skorsing Pelatih Vietnam Ini 4 Pertandingan
- Setelah Egy, Basna, dan Witan, Saddil Ramdani Segera Tinggalkan Tanah Air


Lima hari setelah itu, Indonesia kembali takluk. Kali ini giliran Vietnam yang berpesta lewat skor 3-1. Dalam pertandingan yang berlangsung di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, tersebut, tidak banyak yang berubah dari tipikal permainan Indonesia. Tiga gol Vietnam mengindikasikan lemahnya sistem pertahanan.

Bisakah Indonesia membuat kejutan dalam laga kelima Grup G Pra Piala Dunia 2020, di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Malaysia, Selasa (19/11) malam ini? Sejarah berkata, itu akan sulit tercipta. Pasalnya, kali terakhir Indonesia menekuk Malaysia di kandangnya terjadi pada 1991 alias sudah 28 tahun berlalu.

Tetapi, sejarah negatif tetap berpeluang diubah. Terlepas situasi dan kondisi sepak bola Indonesia yang masih labil, ada daya juang yang bergenderang. Setiap bertarung melawan Malaysia, seperti ada tenaga tambahan dalam diri pemain. Penuhnya Stadion Bukit Jalil, sebab tiket telah terjual habis, kian memompa semangat pemain.

“Kami sudah siap! Kami datang dengan satu tekad: meraih hasil baik. Kami akan berjuang bersama,” kata Rudolof Yanto Basna.

Bek yang membela klub Thailand, Sukhothai FA, itu optimistis Indonesia tidak akan dipermalukan Malaysia. Meskipun turun di markas lawan, tak ada alasan untuk pulang dengan kepala tertunduk.

Menariknya, selama 2019 ini, total ada 59 pemain yang telah dipanggil membela timnas Indonesia. Dari jumlah tersebut, sembilan di antaranya adalah wajah baru, yang tak dipanggil dalam laga sebelumnya (melawan Vietnam). Sedangkan satu-satunya debutan adalah Adri Idrus.

Pemanggilan bek sayap Persib Bandung tersebut terbilang berbeda karena Indonesia sudah tidak ditangani McMenemy. Karier pria Skotlandia itu diakhiri lebih cepat oleh PSSI dan posisinya digantikan duet Yeyen Tumena bersama Joko “Gethuk” Susilo, sebagai karteker.

Meskipun Yeyen dan Joko merupakan asisten McMenemy, kondisi timnas tetap saja semakin rumit. Faktanya, karier kepelatihan Yeyen dan McMenemy sama sekali tidak meyakinkan.

Yeyen sempat mengisi kursi pelatih Bhayangkara FC setelah Angel Alfredo Vera. Namun, ia tidak memberikan kemenangan dalam tiga pertandingan. Sedangkan Joko bernasib tak jauh berbeda saat menangani Arema FC.

Kiranya, sepak bola bukan semata soal IPM, tentang stamina, mengenai kecerdikan pelatih, tetapi juga soal gairah. Tetapi gairah saja memang tidak cukup. Lebih dari itu, rasa tak ingin dipermalukan kudu dikemukakan. Semangat inilah yang kiranya jadi tenaga Indonesia membalas kekalahan pertemuan sebelumnya.*ABDUL SUSILA

T
Penulis
Tri Cahyo Nugroho
news
news