news
INFOGRAFIS
Napoli Sedang dalam Periode Menurun
30 October 2019 15:40 WIB
berita
Pelatih Napoli Carlo Ancelotti kesulitan mengobati Napoli.-Topskor.id/istimewa-
NAPOLI – Siapa pun yang mengikuti sepak terjang SSC Napoli tahu bahwa tim asuhan Carlo Ancelotti tersebut sedang mengalami kemunduran. Tak perlu membandingkan rapornya dengan para perlatih terdahulu, cukup lihat prestasi musim lalu. Pada tahun debutnya, Ancelotti mampu mengumpulkan 21 poin dalam sembilan laga pertama Seri A. Sekarang, raihan tim malah berkurang menjadi 17 poin.

Dari segi momentum, juga ada ketidakpastian. Pada titik ini, musim lalu, mereka menempel Juventus FC di peringkat kedua klasemen. Jadi pesaing utama sang juara bertahan. Namun kini, Lorenzo Insigne dan kawan-kawan hanya bercokol di tangga keempat, tersisih oleh Juve, FC Internazionale, bahkan Atalanta BC. Padahal, inilah musim di mana pasukan Ancelotti dinilai sudah menemukan kekompakkan.




Baca Juga :
- Siaran Langsung Liga Italia, RCTI: Napoli vs AS Roma, Senin (30/11) Pukul 02.45 WIB
- Di Napoli Sepak Bola adalah “Agama”, Maradona Jadi “Dewanya”


Dalam beberapa tahun terakhir, hanya Napoli asuhan Rafael Benitez yang mencatat awal musim lebih buruk di Seri A: 15 poin, 2014/15. Mereka kemudian menyelesaikan kompetisi di peringkat kelima, gagal lolos ke Liga Champions. Jika tak segera berbenah, I Partenopei milik Ancelotti  juga bisa bernasib serupa.

Rabu (30/10) malam atau Kamis dini hari WIB, Napoli akan menjamu salah satu pesaing papan atas Atalanta BC di Stadio San Paolo. Inilah laga yang bisa menentukan kredibilitas scudetto mereka. Menang adalah harga mati. Sebab jika kalah, akan muncul keraguan lebih besar tentang kapasitas tim menghadapi tekanan. Bukan tak mungkin tifosi dan petinggi klub mulai melontarkan kritik.


Baca Juga :
- Hanya Juventus yang Dapat Memisahkan Gian Piero Gasperini dengan Atalanta
- Ini Bukti bahwa Luis Suarez Membuat Atletico Madrid Bukan lagi Tim yang Membosankan


Banyak hal yang tidak berfungsi dalam tim Napoli belakangan ini. Hanya reputasi Ancelotti dan posisi bagus di fase grup Liga Champions yang menahan luapan kekecewaan lebih jauh. Kehadiran sang pelatih dianggap sebagai jaminan, sosok juru taktik yang bisa mengeluarkan potensi terbaik para pemain. Tapi para suporter juga tak sabar lagi menunggu, ingin melihat Napoli yang kompetitif di Seri A.

Mereka tak puas dengan minimnya perkembangan di lapangan. Tim belum menunjukkan identitas jelas, terlalu banyak rotasi dalam susunan starter. Ini membuat para pemain kesulitan memaksimalkan aksi di lapangan, tak pernah benar-benar mendapat kesempatan secara reguler. Belum lagi kebijakan Ancelotti yang memainkan anak asuhnya di posisi tidak natural, kadang lebih banyak efek negatif daripada positif.

Materi skuat Napoli sebenarnya tidak banyak berubah dibanding musim lalu. Namun, alih-alih kian matang, mereka justru jalan di tempat. Insigne dan kawan-kawan tetap belum mampu menang atas Juve, juga kehilangan poin melawan tim-tim kecil macam Cagliari Calcio, Torino FC, dan SPAL 2013. Mereka sangat inkonsisten, tak bisa memperlihatkan kontinuitas dalam permainan.

Jadi, tak ada cara untuk meyakinkan tifosi selain kembali merangkai kemenangan. Dimulai dengan menghabisi Atalanta. Itu bisa jadi pesan penting bahwa Napoli masih punya kapasitas untuk jadi juara. Memenangkan Seri A sudah jadi dambaan publik San Paolo sejak lama, jangan sampai ada kekecewaan lagi di akhir musim.

Ancaman Atalanta

Tapi Atalanta juga bukan lawan sembarangan. Pada 2019, pasukan Gian Piero Gasperini merupakan tim dengan poin terbanyak di Seri A (61), dan baru saja mencatatkan rekor sebagai unit paling produktif dalam 9 laga pembuka (28 gol). Jika belum cukup, Alejandro Gomez dan kawan-kawan juga memimpin dalam jumlah tembakan (191), tembakan ke gawang (80), tembakan di area (61), peluang tercipta (146), serta tekel sukses (105) musim ini. Mereka sudah menjelma jadi kuda hitam yang diperhitungkan.

Saking impresifnya performa Atalanta, banyak yang membandingkan mereka dengan Leicester City asuhan Claudio Ranieri—tim yang mengejutkan sepak bola Inggris dengan menjuarai Liga Primer 2015/16. Melihat permainan eksplosif dan konsistensi La Dea, komparasi rasanya tak berlebihan. Lagipula, Seri A pernah melihat beberapa tim kecil yang mendobrak sejarah, macam Cagliari (1969/70), Hellas Verona FC (1984/85), sampai UC Sampdoria (1990/91).*** Dari berbagai sumber

 

NAPOLI (4-4-2)
1 Meret; 22 Di Lorenzo, 26 Koulibaly, 13 Luperto, 31 Ghoulam; 7 Callejon, 5 Allan, 8 Ruiz, 24 Insigne;
99 Milik, 11 Lozano;
Cadangan: 25 Ospina, 62 Tonelli, 12 Elmas, 20 Zielinski, 34 Younes, 14 Mertens, 9 Llorente;
Pelatih: Carlo Ancelotti

ATALANTA (3-4-1-2)
95 Gollini; 2 Toloi, 4 Kjaer, 19 Djimsiti; 21 Castagne, 15 De Roon, 11 Freuler, 8 Gosens; 18 Malinovsky;
10 Gomez, 72 Ilicic;
Cadangan: 57 Sportiello, 5 Masiello, 33 Hateboer, 88 Pasalic, 79 Traore, 99 Barrow, 9 Muriel;
Pelatih: Gian Piero Gasperini

X
Penulis
Xaveria Yunita