news
UMUM
Harapan Erick Thohir untuk Raja Sapta Oktohari dan Regenerasi KOI
09 October 2019 20:50 WIB
berita
Raja Sapta Oktohari bersama Erick Thohir (Foto: Topskor.id / Muhammad Pratama Supriyadillah)
JAKARTA - Raja Sapta Oktohari resmi menjabat sebagai ketua umum Komite Olimpiade Indonesia (KOI). Dirinya akan memimpin kepengurusan KOI untuk 2019-2023.

Pria yang pernah menjabat ketua panitia Asian Para Games 2018 itu menerima estafet dari ketua periode sebelumnya, yakni Erick Thohir, pada Rabu (9/10) dalam acara Kongres KOI. Okto terpilih sebagai ketua KOI 2019-2023 secara aklamasi.




Baca Juga :
- Kepada Menpora, Risma Jelaskan Panjang Lebar soal Kesiapan Surabaya Menggelar Piala Dunia U-20 2021
- Kemenpora: Inpres dan Keppres Penyelenggaraan Piala Dunia U-20 Rampung 1-2 Hari


Erick Thohir pun mengucapkan selamat untuk Raja Sapta Oktohari. Harapan pun ia sampaikan untuk ketua baru tersebut. Selain harapan, sosok yang juga merupakan IOC Members ini mengatakan bahwa Okto merupakan wujud regenerasi dari KOI.

"Kalau saya melihatnya begini. Tentu yang namanya regenerasi itu diperlukan, mau itu di kepemimpinan olahraga, di dunia usaha, dan di mana saja, karena memang era sekarang, apalagi di Indonesia, mayoritas penduduknya sekarang kan generasi muda," ucap Erick.


Baca Juga :
- Plong! Maria Lawalata Dipulangkan dari Penjara, Persoalan Utangnya Berakhir Damai
- KONI Minta Jumlah Pemain Tim Sepak Bola Pelatda PON Jabar Diciutkan


"Dan generasi muda memiliki pola pikir yang berbeda dengan generasi generasi yang ada, dan hal ini membutuhkan sebuah jembatan."

"Nah, figur dari Raja Sapta Oktohari ini saya harapkan jadi jembatan, tidak hanya ke para atlet, kepada dunia internasional, dan juga kepada pemerintah," tambahnya.

"Dan tentu juga dia punya background yang baik selama ini, karena memang sudah aktif di dunia olahraga sejak dulu, yang mungkin diawali dari tinju, sepeda, dan ini hal yang secara pribadi saya sama dengan dia," terusnya.

"Jadi, memang kita mencari sosok yang sudah lama berkecimpung di dunia olahraga. Bukan sesuatu yang langsung muncul, karena ingin tampil dan tak punya tujuan atau karena kepentingan yang lain," Erick mengakhiri. ***

M
Penulis
Muhammad Pratama Supriyadillah