news
LIGA 1
Saya Nekad Sebenarnya saat Menurunkan Pemain Liga 3, Kata Seto
09 October 2019 11:03 WIB
berita
Pelatih PS Sleman Seto Nurdiyantoro - TopSkor/Sri Nugroho
SLEMAN – Tidak seperti pelatih kebanyakan, Seto Nurdiyantoro tampak dingin saat mendampingi tim dalam pertandingan. Bahkan, saat tercipta gol dramatis, aksinya biasa saja. “Saya terilhami dengan apa yang saya lihat pada timnas Jerman saat Piala Dunia,” katanya saat berbincang santai dengan TopSkor, Selasa (8/10).

Menurut pelatih yang semasa mudanya dulu pernah membela timnas Indonesia ini, menangani timnas adalah salah satu impian yang belum tercapai. Bisakah hal tersebut tercapai dalam beberapa tahun ke depan? Bagaimana kisah-kisah menarik pelatih PS Sleman ini dalam karier sepak bola? Berikut wawancara eksklusifnya:




Baca Juga :
- Ini Bukti Persik Punya Masalah dengan Konsistensi Strategi
- Ternyata, Bukan Seto Nurdiyantoro Tapi Seta Nurdiyantara


Anda selalu terlihat dingin di sisi lapangan…

Kalau saya memang tipikal yang bukan menggebu-gebu. Sepanjang masih mengikuti kompetisi yang panjang, nampaknya bakal tetap demikian. Mungkin saya terilhami dengan apa yang saya lihat pada timnas Jerman saat juara dunia, beberapa tahun silam. Saya lihat tim ini tak memperlihatkan euforia berlebihan kecuali pada momen mereka akhirnya mampu tampil sebagai juara dunia.


Baca Juga :
- Ini Rencana Deris Membangun Kekuatan Persikad 1999
- CEO Persikad 1999 Kukuhkan Jajaran Kepelatihan, Deris Herdiansyah sebagai Pelatih Kepala


PSS garang saat tandang. Apa kuncinya?

Ini yang masih kami analisis. Mengapa kami kerap bagus dalam laga away. Pasti ada faktor teknis dan nonteknisnya. Mungkin juga karena pemain punya keinginan keras untuk menang di kandang tapi kemudian jadi beban sendiri dan akhirnya gagal menang di kandang. Kalau bermain di luar mungkin bisa lebih lepas.

Tantangan apa yang Anda dapat bersama tim promosi?

Sangat banyak pasti. Ini sangat menantang. Kami ditargetkan manajemen untuk bertahan di Liga 1. Dengan pemain yang mayoritas dari Liga 2 dan sekarang bahkan ada yang dari Liga 3, ini adalah tantangan luar biasa bagi saya.

Saat melawan Bhayangkara FC, Anda berani memainkan pemuda dari Liga 3, Ocvian Chaniago sepanjang 87 menit...

Saya nekat saja sebenarnya (tertawa). Saya rekrut tiga pemain dari Liga 3 pada putaran kedua sebenarnya memang adalah pilihan terakhir. Dalam hati saya meyakini mereka mampu secara teknis individu untuk berkompetisi. Hanya memang kembali ke masalah mental yang harus terus dibenahi.

Anda sepertinya begitu dicintai suporter PSS...

Dukungan mereka adalah hal yang luar biasa. Mereka begitu memahai saya secara perjalanan waktu, kontekstual, dan lain sebagainya. Mereka juga paham benar yang saya alami musim ini.

Apa prinsip yang Anda terapkan dalam memimpin tim?

Mungkin sama saja dengan pelatih-pelatih lainnya. Misalnya saja ada aturan-aturan  yang jelas. Namun yang pasti, pemain paham di luar saya bisa sebagai apa saja, namun di lapangan saya adalah pelatih mereka. Semua mengalir begitu saja.

PSS berpeluang menembus papan atas…

Saya tidak mau muluk-muluk. Yang utama adalah kami capai dulu target aman alias bertahan di Liga 1. Ini yang ditargetkan oleh manajemen. Kalau sudah terpenuhi, baru kami bicarakan hal lainnya. Batas aman untuk bertahan adalah pada poin 43-45.

Apa impian sepak bola yang belum terpenuhi?

Saya sempat berkeinginan punya SSB (sekolah sepak bola). Tapi ini pasti bukan hal yang mudah karena saya ingin punya sekolah yang benar-benar jadi pilihan. Tidak ala kadarnya. SSB dengan kelas khusus misalnya. Di luar itu, selama karier sebagai pemain, saya sudah merasakan jadi pemain timnas. Semoga saja berikutnya saya dapat kesempatan untuk terlibat dalam kepelatihan timnas.

Pernah membela Persiba, PSIM, dan PSS. Mana yang paling berkesan?

Secara prestasi, saya masih sempat membawa Persiba Bantul juara Divisi Utama 2011, di PSIM juga sangat berarti karena saya memulai karier sebagai pemain dan pelatih profesional bersama PSIM. Sedang di PSS, saya sebagai pelatih merasakan juara Liga 2 dan kini kami ada di Liga 1.

Bagaimana hobi motor klasik Anda?

(Tertawa). Saya memang punya hobi dengan barang-barang klasik. Sebenarnya tidak hanya sepeda motor, saya juga sempat punya sepeda klasik, mobil klasik. Di rumah juga saya senang dengan perabotan rumah yang antik misalnya meja, kursi, lemari, dan lain sebagainya.* Sri Nugroho 

news
Penulis
Abdul Susila
Pejalan kaki untuk gunung-gunung tropis Indonesia. Mencintai sastra, fanatis timnas Garuda, dan sedang aktif di sepak bola usia dini. Anak pertama dari tiga bersaudara.
news
news