news
INFOGRAFIS
Analisis Jelang Derby d'Italia Inter Vs Juventus
30 September 2019 14:51 WIB
berita
MILAN – FC Internazionale dan Juventus FC telah memanaskan mesin untuk Derby d’Italia, 6 Oktober nanti, di Milan. Dua tim papan atas Seri A itu sama-sama meraih poin penuh akhir pekan kemarin. Mereka memiliki kesamaan. Memulai dari nol dengan pelatih baru dan royal dalam mercato demi membentuk tim terkuat. 

La Gazzetta dello Sport membuat perbandingan kedua tim menjelang derbi. 




Baca Juga :
- Ronaldo Tidak Mau Bertukar Kaus dengan Kiper yang Menepis Tendangan Penaltinya
- Lautaro Minta Nilai Kontrak Lebih Baik jika Inter Ingin Dirinya Tetap di Meazza


Kekuatan
Inter
Lini pertahanan terbaik dalam lima kompetisi besar Eropa. Ini saja sudah memberikan efek tertentu. Gawang Samir Handanovic baru dibobol dua kali dalam enam laga. Conte berhasil mempertahankan standar prestasi tim, bisa merotasi hampir setiap tokoh utama yang tersedia. Hanya Milan Skriniar yang tak terganti. 

Juve
Dalam satu bulan terakhir, Juve memulai permainan dari Leonardo Bonucci, Sami Khedira dan Blaise Matuidi, bersama Cristiano Ronaldo memperlihatkan prestasi yang lebih baik. Inilah kepastian dari Maurizio Sarri ditambah dengan pemain andalan Miralem Pjanic, CR7 dan Gonzalo Higuain. Kondisi Aaron Ramsey juga membaik. Di Brescia, Si Nyonya Besar main dengan trequartista, sebaliknya untuk Inter-Juve titik kekuatan yang dapat diandalkan adalah kualitas lebih unggul dari individu pemain. 


Baca Juga :
- Jalan-jalan bersama Keluarga di Tengah Wabah Corona, Ronaldo Dapat Teguran Keras
- Candreva: Saya selalu Memikirkan Ayah Saya


Kelemahan
Inter
Meski kini bertengger di puncak klasemen, Inter punya kelemahan. Pertama, ketergantungan kepada Stefano Sensi. Kedua, kurang mumpuni dalam sirkulasi bola. Ketiga,  Lautaro Martinez-Romelu Lukaku belum serasi.

Juve
Badai cedera membuat benteng skuat Sarri rapuh. Mattia De Sciglio, Danilo, Douglas Costa dan Giorgio Chiellini tumbang. Tapi Blaise Matuidi bisa beradaptasi sebagai pengganti bek kiri dan Matthijs De Ligt mulai paham dengan mekanisme permainan di Italia. 

Aspek psikologi.
Inter
Enam kemenangan beruntun membuat level psikologis anak buah Conte meningkat, sejalan dengan ekspektasi tifosi. Namun, pelatih ingin menghindari kepuasan berlebihan yang bisa menurunkan konsentrasi tim. 

Juve
Sarri menyukai para pemain yang dapat memahami pelajaran yang diberikannya dengan cepat. Pelatih ingin permainan dengan banyak bola dan konsentrasi penuh ketika fase bertahan. Juve belum konsisten dalam hal ini.

Keserasian
Inter
Sampai sekarang tim telah memperlihatkan semua yang diminta Conte: pressing, pertahanan yang membangun permainan, pemain sayap yang berhati-hati dan main positif, barisan lapangan tengah yang presisi dalam dua fase. Pelatih ingin versi yang lebih baik lagi. 

Juve
Seberapa besar pengaruh Sarri di Juve? Pertanyaan ini terus terulang hari demi hari. Jawabannya masih sebagian, dia mengerti bahwa Juve tidak akan pernah menjadi Napoli karena diperkuat individu berbeda. Kendati demikian, gaya Sarri mulai terlihat: di Firenze, sedikit di Brescia, pasti di babak pertama melawan Napoli. Jadi keserasian permainan tergantung dari individu. 

Efek Pemain Baru
Inter
Lukaku dan Sensi kemudian Diego Godin dan Nicolo Barella, mulai Rabu (25/9), juga ada Cristiano Biraghi. Bisa dikatakan para pemain baru telah memberikan dampak positif bersama Conte. Mereka telah menampilkan sprint, kualitas, pengalaman, gol. Alexis Sanchez membuka rekening gol di Seri A dalam laga lawan Sampdoria.

Juve
Higuain bisa dibilang pemain baru. Performa apik Ramsey selaku pemain nomor 10 adalah kabar positif. Adrien Rabiot yang memulai babak pertama di Brescia dengan mengecewakan, di babak kedua mulai bermain bagus. De Ligt dan Danilo telah masuk tim inti, sementara Merih Demiral sampai sekarang masih harus belajar.***
 

T
Penulis
TSM
news
news