news
UMUM
Suasana Tim dan Rencana Timnas U-18 Setelah Takluk dari Malaysia
19 August 2019 13:06 WIB
berita
Foto TopSkor Abdul Susila
BINH DUONG – Semuanya sedih, kecewa, dan marah pada diri sendiri. Sampai-sampai, suasana di dalam bus dalam perjalanan dari Stadion Go Dau ke hotel tempat timnas Indonesia U-18 menginap, layaknya tengah malam di pedesaan. Sunyi dan sepi. Tak ada yang berbicara. Semuanya larut dalam lamunan masing-masing.

Itu yang dirasakan anak-anak Garuda Muda setelah ditaklukkan Malaysia dengan skor 3-4 pada 17 Agustus lalu, yang bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia, dalam laga semifinal Piala AFF U-18 2019 di Binh Duong, Vietnam. Kegagalan melaju ke partai final kejuaraan ini membuat mereka terpukul.




Baca Juga :
- Rekan Shin Tae Yong Sumbang 5.000 US Dolar untuk Penanganan Covid-19 di Vietnam
- Mantan Pemain Sriwijaya FC asal Italia, Bercerita Terjangan Virus Corona di Negeri Pizza


Tetapi, pada Minggu (18/8) pagi, suasana sudah lebih cair. Dalam latihan ringan, bagi pemain yang tak tampil dan main setengah babak, sudah bisa tersenyum. Pemain-pemain inti yang menjalani latihan ringan pada sore harinya, pun sudah bersenda gurau. Hanya saja, mimik letih masih tergambar di wajah mereka.

“Lupakan kekalahan kemaarin,” kata Fakhri Husaini, pelatih timnas Indonesia U-18. “Tidak ada pemain hebat yang tak pernah mengalami kegagalan. Ini bagian dari perjalanan menuju masa depan. Masa depan kalian masih panjang,” pelatih asal Lhokseumawe, Aceh itu memberi petuah kepada pemainnya.


Baca Juga :
- Ibunda Presiden Jokowi Meninggal, Ketum PSSI Sampaikan Belasungkawa
- Shin Tae Yong Kantongi Sejumlah Catatan, Timnas Berpeluang Panggil Pemain Baru


Sebaliknya, kekalahan ini harus dijadikan cambuk untuk bangkit, berjuang lebih keras, dan berlatih lebih giat. Target utama dari tim ini, yakni menembus putaran final Piala Asia U-19 2020, lantas meraih tiket putaran final Piala Dunia U-20 2021, harus digapai. Demi asa itu, tentu semua pemain harus terus berkembang.

Adapun Pra Piala Asia U-19 2020 akan berlangsung mulai 6 November mendatang. Indonesia tergabung di Grup K bersama Timor Leste, Hongkong, dan Korea Utara. Pertandingan babak kualifikasi ini akan berlangsung di Jakarta, Indonesia. PSSI menargetkan, Indonesia menjuarai grup ini.

Terkait kesuksesan dalam Pra Piala Asia U-19 itu, PSSI sudah menjalin kesepakatan dengan federasi sepak bola Iran. Rencananya, David Maulana dan kawan-kawan akan berlatih tanding dengan timnas Iran U-16 pada 4 dan 7 September mendatang, di Stadion Mandalakrida, Yogyakarta, dan Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi.

Menurut Fakhri, sejatinya laga ini tidak ideal. Pasalnya, tim asuhannya baru diliburkan sepulangnya dari Vietnam, 20 Agustus nanti. Kondisi pemain pun dipastikan tidak prima. Selepas menjalani pertandingan super padat dalam Piala AFF, dipastikan kondisi pemain sudah sangat menurun, walau pemain tetap berlatih normal.

“Kami akan menggunakan pertandingan ini untuk persiapan, minimal mengukur kekuatan melawan tim Timur Tengah. Saya berharap setelah lawan Iran, PSSI bisa memfasilitasi juga kami bisa melawan salah satu tim kuat asal Asia Timur, yang bisa mewakili kekuatan Korea Utara. Apakah Korea Selatan, Cina, atau Jepang,” kata Fakhri.

Soal anggapan bahwa timnas Indonesia U-18 mulai dijadikan komoditas bisnis oleh PSSI, dibantah oleh Fakhri. Pelatih berusia 54 tahun menerangkan, pertandingan melawan Iran U-19 sejatinya diinginkannya untuk pertandingan internasional sebelum  melawan terjun dalam Piala AFF U-19 2019.

“Oh tidak tidak. Saya belum melihat itu (dijadikan komoditi bisnis) ya. Karena memang itu (uji coba melawan Iran U-19) sebenarnya saya yang minta. Hanya saja lobi PSSI dengan Iran yang tidak ketemu tanggalnya pada saat kami TC (training centre) di Cikarang. Kalau saya melihat sampai sejauh ini belum,” ia menerangkan.

 

Bola Mati

Sementara itu, Fakhri menyoroti antisipasi bola mati sebagai titik lemah utama tim dalam laga melawan Malaysia. Dari empat gol yang dilesakkan Malaysia ke gawang Ernando Eri Sutaryadi, kiper timnas Indonesia U-18, tiga di antaranya diawali set piece. Dalam laga melawan Myanmar, hal tersebut diharapkan tak terulang.

Ketenangan di depan gawang, juga menjadi sorotan. Walau terbilang produktif, pemain Indonesia mudah panik dalam waktu-waktu krusial. Banyaknya peluang yang tercipta saat lawan Malaysia namun tak bisa dikonfersi menjadi gol, jadi buktinya. Menurut Fakhri, situasi seperti ini harus bisa dipecahkan saat Pra Piala Asia nanti.

“Yang saya sayangkan, kami kebobolan dua lewat penalti dan dua lewat free kick. Tetapi  mereka (pemain) sudah berjuang dengan laur biasa. Kami bukan kalah tanpa perlawanan. Tetapi ketika pemain kehilangan konsentrasi, kehilangan momentum, kurang sabar, ini yang menyebabkanterjadinya gol,” ucap Fakhri.***ABDUL SUSILA

 

R
Penulis
Rizki Haerullah
news
news